HIKMAH TIDAK SAMANYA PEMBAGIAN REZKI
اسلماعليكم ورحمتلله وبرقاته
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla mengingkari semua orang yang meninggalkan hukum Allah Azza wa Jalla yang telah ditetapkan yang berisi semua kebaikan, keadilan dan mencegah atau menghalangi dari semua keburukan. Karena tidak ada seorang pun yang lebik baik hukumnya bila dibandingkan dengan hukum-hukum yang telah disyariat Allah Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui segalanya, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Yang Maha Adil dalam semua hukum-Nya. Termasuk dalam masalah pembagian rezeki yang berbeda kadarnya pada masing-masing makhluk-Nya.
Diantaranya agar para hamba-Nya mengetahui dan menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla yang mengatur semua perkara dan ditangan-Nya pengaturan langit dan bumi. Allah Azza wa Jalla memberikan kelonggaran untuk yang ini dan menyempitkan untuk yang lain tanpa ada yang mampu menghalangi qadha dan takdir-Nya:
Dengan menyadari ini, si kaya tidak akan merasa sombong, congkak dan tidak akan bakhil, sebaliknya si miskin juga tidak merasa rendah diri. Karena kedudukan di sisi Allah Azza wa Jalla bukan diukur berdasarkan harta yang melimpah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Diantara hikmah yang terkandung dalam pembagian rezeki dengan kadar yang berbeda-beda adalah agar manusia bisa mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa kehidupan akhirat juga akan berbeda-beda tingkatnya sebagaimana kehidupan dunia.
Di dunia ini, ada yang tinggal dalam istana megah dan kokoh serta mengendarai kendaraan mewah dengan harta fantastis. Kehidupannya bergelimang harta. Dia dan semua anggota keluarga juga anak-anaknya hidup senang, bahagia dan berkecukupan tak kurang satu apapun.
Ada juga yang kehidupannya menengah, namun ada juga yang tidak memiliki tempat tinggal, tidak mempunyai harta, tidak beristri, bahkan dia hidup sebatang kara. Inilah kehidupan di dunia dengan berbagai tingkatan. Begitu pula kehidupan akhirat, Allah Azza wa Jalla mengingatkan bahwa perbedaan derajat di akhirat akan lebih agung dan kekal lagi.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Dalam ayat di atas, dengan sangat tegas, Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya. Oleh karena itu, seyogyanya, kita berlomba-lomba menggapai derajat tertinggi dan kehidupan yang kekal tersebut. Itu lebih baik dan lebih bagus buahnya.
Diantara hikmah pembagian rezeki yang tidak sama itu adalah agar yang kaya mengetahui nilai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya dan bersyukur kepada-Nya dengan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, baik kewajiban kepada Allah Azza wa Jalla maupun kewajiban kepada sesama manusia. Dengan demikian dia akan masuk kedalam golongan orang-orang yang bersyukur. Sehingga kekayaan yang dia miliki menjadi kebaikan baginya di dunia dan akhirat.
Diantara hikmahnya adalah agar orang yang fakir menyadari dan mengimani bahwa kefakiran yang Allah timpakan kepadanya adalah sebentuk ujian untuk dirinya, akankah dia bersabar atau bagaimana? Jika dia bersabar dalam menghadapi ujian itu, maka dia meraih derajat orang-orang yang bersabar dan orang-orang yang bersabar mendapatkan balasan yang sempurna di akhirat.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
Disamping itu, dia akan terus memohon kepada Rabbnya agar diberi kemudahan dan kelonggaran dalam perjalanan hidupnya.
Diantara hikmah lainnya adalah agar kemaslahatan bisa terealisasi, baik dalam masalah agama maupun dunia. Seandainya Allah Azza wa Jalla menganugerahkan rezeki yang melimpah kepada seluruh makhluk-Nya, pasti mereka akan berbuat kerusakan di muka bumi dengan bersikap lancang, kufur, dan berbagai kerusakan lainnya.
Seandainya Allah menyempitkan rezeki pada seluruh hamba-Nya pasti interaksi antar sesama akan rusak dan sendi-sendi kehidupan mereka rusak.
Seandainya, semua manusia berada dalam taraf ekonomi yang sama, tentu mereka tidak bisa saling menyuruh untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, tidak ada yang mau bekerja untuk membuat produk tertentu dan tidak ada yang tertarik untuk memiliki skill tertentu. Karena semua mereka berada pada level yang sama.
Jika seperti ini keadaannya, dimanakah sifat rahmat dan kasih orang kaya kepada orang fakir? Dimana pula kedudukan agung yang bisa diraih dengan cara menginfakkan harta terutama kepada kerabat?
Ini jika semua sama dalam taraf ekonominya.
اسلماعليكم ورحمتلله وبرقاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ،
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ؛ إِلَهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ
وَقُيُوْمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى
وَحْيِهِ؛ بَلَّغَ الرِسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ وَنَصَحَ الأُمَّةَ
وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِيْنُ،
فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ:
اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى ؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرٍ أُمُوْرٍ دِيْنُهُ وَدُنْيَاهُ
Ma'asiral muslimin rahima kumullah
Dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita selalu bersyukur kepada Allah 'Azza wajalla atas segala Rahmat dan ni'mat yang selalu bercucuran kepada kita semua, dimana kalau kita ingin menghitung-hitung atau mau membayar semua ni'mat Allah tsb, niscaya walau sekaya apapun kita, sepintar apapun kita pastilah kita tidak akan mampu untuk melakukanya.
Maka dari itu untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah 'Azza wajalla, tidak ada jalan lain kecuali kita harus bertaqwa kepadanya, dengan sebenar-benarnya taqwa yaitu dengan jalan mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-laranganya. Jadi sekali lagi khatibkan ingin menekankan kepada kita semua, marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah 'Azza wajalla dengan benar-benar menjalankan dan memurnikan ajaranya dengan semurni-murninya.
Kemudian marilah kita selalu dan senantiasa bersalawat kepada uswatun hasanah kita, junjungan kita, imam kita, pemimpin dari segala pemimpin nabiyullah, nabi Muhamad saw: "Allahuma sali 'ala Muhamad wa'ala ali Muhamad", semoga beliau, sahabat dan keluarganya akan selalu dalam Rahmat dan kasih sayang Allah serta kita sebagai umatnya akan mendapat syafaat diyaumil akhir nanti Aamiiin ya Rabbal 'Alamiin
Ma'asiral muslimin rahimah qumullah
Adapun tema khutbah kita hari ini adalah : "Hikmah dari tidak samanya pembagian Rezki"
Marilah kita tanamkan dan kita yakinkan kepada diri kita masing-masing' bahwa Allah Azza
wa Jalla memiliki hikmah yang sangat agung dalam menciptakan segala
sesuatu, menetapkan takdir buat semua makhluk-Nya, memberikan kemudahan
rezeki kepada sebagian orang serta menyusahkan sebagian yang lain. Allah
Azza wa Jalla juga memiliki hikmah yang tinggi dalam hukum dan
syariat-Nya. Kita harus meyakini bahwa seluruh hukum dan syariat-Nya
adil, mengandung rahmat dan hikmah serta pasti mendatangkan mashlahat
buat hamba-Nya di dunia dan akherat jika mereka melaksanakannya.Allah Azza wa Jalla berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah
yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
(Al-Maidah/5:50).Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla mengingkari semua orang yang meninggalkan hukum Allah Azza wa Jalla yang telah ditetapkan yang berisi semua kebaikan, keadilan dan mencegah atau menghalangi dari semua keburukan. Karena tidak ada seorang pun yang lebik baik hukumnya bila dibandingkan dengan hukum-hukum yang telah disyariat Allah Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui segalanya, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Yang Maha Adil dalam semua hukum-Nya. Termasuk dalam masalah pembagian rezeki yang berbeda kadarnya pada masing-masing makhluk-Nya.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi rezeki melimpah kepada sebagian hamba-Nya dan menahan rezeki dari sebagian yang lainnya. Apabila ada salah seorang diantara kita yang diberi kelonggaran rezeki, maka kewajibannya adalah besyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya terkait rezeki yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan tersebut. Sedangkan, bagi seorang hamba yang disempitkan rezekinya atau rezekinya agak seret, maka dia wajib bersabar atas takdir Allah tersebut dan terus berusaha serta ber-husnuz zhan (besangka baik) kepada Allah Azza wa Jalla bahwa apa yang Allah Azza wa Jalla tentukan untuk dirinya adalah yang terbaik karena Allah maha mengetahui kemaslahatan mereka dan Allah maha penyayang kepada mereka melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya.
Allah Yang Maha Tahu dan Yang Maha Bijaksana telah membagi-bagi rezeki kepada para hamba-Nya. Tentu itu demi suatu hikmah yang sangat indah dan agung.Diantaranya agar para hamba-Nya mengetahui dan menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla yang mengatur semua perkara dan ditangan-Nya pengaturan langit dan bumi. Allah Azza wa Jalla memberikan kelonggaran untuk yang ini dan menyempitkan untuk yang lain tanpa ada yang mampu menghalangi qadha dan takdir-Nya:
لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan
rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya).
Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Asy-Syura/42:12).Dengan menyadari ini, si kaya tidak akan merasa sombong, congkak dan tidak akan bakhil, sebaliknya si miskin juga tidak merasa rendah diri. Karena kedudukan di sisi Allah Azza wa Jalla bukan diukur berdasarkan harta yang melimpah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al-Hujurat/49:13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak melihat kepada bentuk rupawan
kalian juga tidak melihat kepada harta benda kalian, akan tetapi Allah
Azza wa Jalla melihat kepada amal perbuatan dan hati kalian.”Diantara hikmah yang terkandung dalam pembagian rezeki dengan kadar yang berbeda-beda adalah agar manusia bisa mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa kehidupan akhirat juga akan berbeda-beda tingkatnya sebagaimana kehidupan dunia.
Di dunia ini, ada yang tinggal dalam istana megah dan kokoh serta mengendarai kendaraan mewah dengan harta fantastis. Kehidupannya bergelimang harta. Dia dan semua anggota keluarga juga anak-anaknya hidup senang, bahagia dan berkecukupan tak kurang satu apapun.
Ada juga yang kehidupannya menengah, namun ada juga yang tidak memiliki tempat tinggal, tidak mempunyai harta, tidak beristri, bahkan dia hidup sebatang kara. Inilah kehidupan di dunia dengan berbagai tingkatan. Begitu pula kehidupan akhirat, Allah Azza wa Jalla mengingatkan bahwa perbedaan derajat di akhirat akan lebih agung dan kekal lagi.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas
sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi
tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (Al-Isra’/17:21).Dalam ayat di atas, dengan sangat tegas, Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya. Oleh karena itu, seyogyanya, kita berlomba-lomba menggapai derajat tertinggi dan kehidupan yang kekal tersebut. Itu lebih baik dan lebih bagus buahnya.
Diantara hikmah pembagian rezeki yang tidak sama itu adalah agar yang kaya mengetahui nilai nikmat yang Allah karuniakan kepadanya dan bersyukur kepada-Nya dengan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, baik kewajiban kepada Allah Azza wa Jalla maupun kewajiban kepada sesama manusia. Dengan demikian dia akan masuk kedalam golongan orang-orang yang bersyukur. Sehingga kekayaan yang dia miliki menjadi kebaikan baginya di dunia dan akhirat.
Diantara hikmahnya adalah agar orang yang fakir menyadari dan mengimani bahwa kefakiran yang Allah timpakan kepadanya adalah sebentuk ujian untuk dirinya, akankah dia bersabar atau bagaimana? Jika dia bersabar dalam menghadapi ujian itu, maka dia meraih derajat orang-orang yang bersabar dan orang-orang yang bersabar mendapatkan balasan yang sempurna di akhirat.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar/39:10).Disamping itu, dia akan terus memohon kepada Rabbnya agar diberi kemudahan dan kelonggaran dalam perjalanan hidupnya.
Diantara hikmah lainnya adalah agar kemaslahatan bisa terealisasi, baik dalam masalah agama maupun dunia. Seandainya Allah Azza wa Jalla menganugerahkan rezeki yang melimpah kepada seluruh makhluk-Nya, pasti mereka akan berbuat kerusakan di muka bumi dengan bersikap lancang, kufur, dan berbagai kerusakan lainnya.
Seandainya Allah menyempitkan rezeki pada seluruh hamba-Nya pasti interaksi antar sesama akan rusak dan sendi-sendi kehidupan mereka rusak.
Seandainya, semua manusia berada dalam taraf ekonomi yang sama, tentu mereka tidak bisa saling menyuruh untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, tidak ada yang mau bekerja untuk membuat produk tertentu dan tidak ada yang tertarik untuk memiliki skill tertentu. Karena semua mereka berada pada level yang sama.
Jika seperti ini keadaannya, dimanakah sifat rahmat dan kasih orang kaya kepada orang fakir? Dimana pula kedudukan agung yang bisa diraih dengan cara menginfakkan harta terutama kepada kerabat?
Ini jika semua sama dalam taraf ekonominya.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
Aquulu matsy ma'un waastagh firullahaliiy walaqum wali sairil muslimina minkulla zanbin fastaghfiruhu yaghfirlaqum innahu huwal ghafururahiim
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ، وَاسِعِ الفَضْلِ وَالجُوْدِ
وَالاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى
اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا .
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى.
وَاعْلَمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – أَنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كَلَامُ
اللهِ وَخَيْرَ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، وَعَلَيْكُمْ
بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ .
وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى إِمَامِ الهُدَاةِ
وَسَيِّدِ الأَوَّلِيْنَ الآخِرِيْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا
أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ﴾ [الأحزاب:٥٦]، وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةِ
المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ
اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ
بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ
وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ
مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابِكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ
يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ
الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ
فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً
مُهْتَدِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ
وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي
أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَالِحَةَ
النَاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ
لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا،
وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ
لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ
زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا فِي كُلِّ
شَرٍّ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ
مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. اَللَّهُمَّ أّصْلِحْ
ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ
السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَباَرِكْ
لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا وَأَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَاتِنَا وَاجْعَلْنَا مُبَارَكِيْنَ أَيْنَمَا كُنَّا.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الغَلَا وَمِنَ البَلاَ وَمِنَ
الفِتَنِ وَمِنَ المِحَنِ كُلَّهَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ
بَلَدِناَ هَذَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا
ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ
مُنْكَرَاتِ الأَخْلَاقِ وَالأَهْوَاءِ وَالأَدْوَاءِ، اَللَّهُمَّ
اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ،
وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا
أَنْتَ. اَللَّهُمَّ اهْدِنَا وَسَدِدْنَا، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكُ
الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخّرْنَا
وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا
أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيٍءٍ
قَدِيْرٍ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ وَأَنْعِمْ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .
Komentar
Posting Komentar