JALAN YANG BERLIKU
KADANG KITA TERTAWA, KADANG KITA MENANGIS DAN ADA PULA SAAT-SAATNYA KITA MERASA BAHWA HANYA KITALAH ORANG YANG PALING SEMPURNA DAN BAHAGIA ATAU-PUN ORANG YANG PALING HINA DAN RENDAH ATAU-PUN PALING APES DI MUKA BUMI INI
Panjang atau pendeknya perjalanan hidup anak manusia terkadang bukan diukur dari berapa lama ia hidup didunia ini, terkadang seseorang merasa betapa berat perjalanan hidup yang ia lalui karena banyaknya beban yang harus ia rasakan selama ia menjalani hidupnya sehingga walau umurnya masih cukup muda, namun ia merasakan betapa panjang dan lamanya hidup ini.
Dan ada juga orang yang merasakan betapa singkatnya hidup ini, sehingga walaupun umurnya sudah "renta" namun ia merasakan hidupnya baru beberapa tahun saja dan perasaan ini mungkin dirasakan bagi orang-orang yang tidak mengalami beban hidup yang memadai, atau orang-orang yang tidak pernah merasa mempunyai beban didalam hidupnya, maka ia beranggapan hidup ini harus "Enjooy".
Inilah realita kehidupan, walau apa yang kita rasakan dan kita alami tidak akan pernah dirasakan oleh orang lain, kita merasa sakit, orang lain tidak akan merasakannya, kita merasa susah orang lain-pun tak akan merasakannya.
Semua yang kita rasakan hanya kita sendiri yang mengetahui bagaimana sakit dan susahnya perasaan yang ada dihati kita.
Maka untuk menjaga agar perasaan kita selalu seimbang dalam menghadapi segala bentuk gejolak-gejolak yang sering berkecamuk dihati kita, baik perasaan senang, riang, bahagia atau-pun sedih, susah, nestapa atau-pun galau, maka dibutuhkan suatu penyetabil yang mampu menyeimbangkan atau pun mengatur perasaan-perasaan tersebut agar tidak menjadikan kita jatuh kedalam perbuatan-perbuatan hina dari segala dampak yang ditimbulkan oleh bermacam-macam perasaan-perasaan itu.
Setiap perasaan yang ada didalam hati manusia, baik perasaan, senang, riang, bahagia, gembira dan lain sebagainya, maupun perasaan susah, sedih,derita dan lainnya, semuanya pasti akan berdampak negatif bila kita tidak dapat mengimbanginya dengan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik atau pun menyeimbangkan perasaan itu.
Bila kita merasa bahagia dan kebahagian kita ini hanyalah milik kita, maka boleh jadi perasaan inilah yang akan dapat membuat kita susah ataupun sengsara. Begitu juga sebaliknya, bila kita merasa susah ataupun sedih dan kesusahan dan kesedihan ini hanya milik kita, maka bisa jadi kesusahan kita ini akan semakin bertambah dan tidak mustahil akan menjadi penyesalan yang tak kunjung usai.
Maka untuk menyeimbangkan segala perasaan yang ada, jalan satu-satunya adalah dengan jalan meniti kebenaran, meniti jalan yang lurus yaitu jalanya orang-orang yang telah diberi nikmat dan diridhai oleh Allah.
Untuk mendapatkan jalan yang lurus itu, maka yang paling mendasar yang harus benar-benar tertanam dan tertancap didalam hati sanubari kita yang paling dalam adalah bahwa "Tiada Tuhan selain Allah dan Muahamad adalah Rasulullah" dan "Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah".
Bila hal itu telah benar-benar tertanam didalam jiwa kita, maka kita harus mengiringinya dengan pernyataan-pernyataan yang syakral yaitu "Hanya kepadamulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami meminta pertolongan".
Dan pernyataan ini harus selalu kita ikrarkan minimal 17 kali dalam 24 jam.
Dengan demikian akan mudah bagi kita untuk menghadapi segala persoalan ataupun perasaan yang sering ada didalam hati kita. Seumpama kita mendapatkan kebahagiaan karena diberi nikmat oleh Allah, maka kita akan selalu bersukur, karena sesungguhnya nikmat-nikmat itu hanyalah sebagai ujian dan amanah bagi kita.
Dan bila kita sedang mendapatkan perasaan gundah, gelisah, susah ataupun sedih, karena segala macam ujian, maka dengan selalu mengikrarkan "hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan" sekurang-kurangnya 17 kali dalam 24 jam dan ditambah dengan perasaan sabar, maka niscaya segala bentuk kesedihan kesusahan yang ada dihati kita akan segera terkikis dan hilang.
Jadi untuk menjaga segala perasaan-perasaan yang akan berakibat fatal pada kehidupan kita selanjutnya, maka jalan yang harus kita tempuh adalah "jalan yang lurus" yaitu jalanya orang-orang yang telah diberi petunjuk dan nikmat dan bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai dan berbuat Zalim.
Mari kita selalu belajar dan belajar tentang agama kita ini agar kita dapat memahami tentang liku-liku kehidpun ini. Jangan sampai karena ke malasan kita untuk belajar ilmu-ilmu agama akan menjadi penyesalan yang tiada berakhir dan menjadikan hidup yang paling rugi.
Panjang atau pendeknya perjalanan hidup anak manusia terkadang bukan diukur dari berapa lama ia hidup didunia ini, terkadang seseorang merasa betapa berat perjalanan hidup yang ia lalui karena banyaknya beban yang harus ia rasakan selama ia menjalani hidupnya sehingga walau umurnya masih cukup muda, namun ia merasakan betapa panjang dan lamanya hidup ini.
Dan ada juga orang yang merasakan betapa singkatnya hidup ini, sehingga walaupun umurnya sudah "renta" namun ia merasakan hidupnya baru beberapa tahun saja dan perasaan ini mungkin dirasakan bagi orang-orang yang tidak mengalami beban hidup yang memadai, atau orang-orang yang tidak pernah merasa mempunyai beban didalam hidupnya, maka ia beranggapan hidup ini harus "Enjooy".
Inilah realita kehidupan, walau apa yang kita rasakan dan kita alami tidak akan pernah dirasakan oleh orang lain, kita merasa sakit, orang lain tidak akan merasakannya, kita merasa susah orang lain-pun tak akan merasakannya.
Semua yang kita rasakan hanya kita sendiri yang mengetahui bagaimana sakit dan susahnya perasaan yang ada dihati kita.
Maka untuk menjaga agar perasaan kita selalu seimbang dalam menghadapi segala bentuk gejolak-gejolak yang sering berkecamuk dihati kita, baik perasaan senang, riang, bahagia atau-pun sedih, susah, nestapa atau-pun galau, maka dibutuhkan suatu penyetabil yang mampu menyeimbangkan atau pun mengatur perasaan-perasaan tersebut agar tidak menjadikan kita jatuh kedalam perbuatan-perbuatan hina dari segala dampak yang ditimbulkan oleh bermacam-macam perasaan-perasaan itu.
Setiap perasaan yang ada didalam hati manusia, baik perasaan, senang, riang, bahagia, gembira dan lain sebagainya, maupun perasaan susah, sedih,derita dan lainnya, semuanya pasti akan berdampak negatif bila kita tidak dapat mengimbanginya dengan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik atau pun menyeimbangkan perasaan itu.
Bila kita merasa bahagia dan kebahagian kita ini hanyalah milik kita, maka boleh jadi perasaan inilah yang akan dapat membuat kita susah ataupun sengsara. Begitu juga sebaliknya, bila kita merasa susah ataupun sedih dan kesusahan dan kesedihan ini hanya milik kita, maka bisa jadi kesusahan kita ini akan semakin bertambah dan tidak mustahil akan menjadi penyesalan yang tak kunjung usai.
Maka untuk menyeimbangkan segala perasaan yang ada, jalan satu-satunya adalah dengan jalan meniti kebenaran, meniti jalan yang lurus yaitu jalanya orang-orang yang telah diberi nikmat dan diridhai oleh Allah.
Untuk mendapatkan jalan yang lurus itu, maka yang paling mendasar yang harus benar-benar tertanam dan tertancap didalam hati sanubari kita yang paling dalam adalah bahwa "Tiada Tuhan selain Allah dan Muahamad adalah Rasulullah" dan "Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah".
Bila hal itu telah benar-benar tertanam didalam jiwa kita, maka kita harus mengiringinya dengan pernyataan-pernyataan yang syakral yaitu "Hanya kepadamulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami meminta pertolongan".
Dan pernyataan ini harus selalu kita ikrarkan minimal 17 kali dalam 24 jam.
Dengan demikian akan mudah bagi kita untuk menghadapi segala persoalan ataupun perasaan yang sering ada didalam hati kita. Seumpama kita mendapatkan kebahagiaan karena diberi nikmat oleh Allah, maka kita akan selalu bersukur, karena sesungguhnya nikmat-nikmat itu hanyalah sebagai ujian dan amanah bagi kita.
Dan bila kita sedang mendapatkan perasaan gundah, gelisah, susah ataupun sedih, karena segala macam ujian, maka dengan selalu mengikrarkan "hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan" sekurang-kurangnya 17 kali dalam 24 jam dan ditambah dengan perasaan sabar, maka niscaya segala bentuk kesedihan kesusahan yang ada dihati kita akan segera terkikis dan hilang.
Jadi untuk menjaga segala perasaan-perasaan yang akan berakibat fatal pada kehidupan kita selanjutnya, maka jalan yang harus kita tempuh adalah "jalan yang lurus" yaitu jalanya orang-orang yang telah diberi petunjuk dan nikmat dan bukanlah jalan orang-orang yang dimurkai dan berbuat Zalim.
Mari kita selalu belajar dan belajar tentang agama kita ini agar kita dapat memahami tentang liku-liku kehidpun ini. Jangan sampai karena ke malasan kita untuk belajar ilmu-ilmu agama akan menjadi penyesalan yang tiada berakhir dan menjadikan hidup yang paling rugi.

Komentar
Posting Komentar